Selasa, 12 Maret 2019

BAGAIMANA SOSOK GURU BERWIBAWA

"Barang siapa melihatnya sepintas, ia akan tampak berwibawa. Dan barang siapa mengenal dan bergaul dengannya, niscaya ia akan menyukainya. [HR. at-Turmudzi]

Jam istirahat sudah habis, bel tanda masuk sudah berbunyi. Anak-anak memasuki kelas masing-masing untuk mengikuti pelajaran berikutnya. Namun sebagian anak-anak masih tetap berada diluar kelas, ternyata anak-anak yang diluar guru yang mengajar pada kelas tersebut berhalangan hadir, sehingga mereka bebas bermain diluar.

Aktivitas anak-anak yang sedang bermain dihalaman segera terhenti dan mereka semua berlarian masuk ke kelas ketika mereka melihat seorang guru lewat. Apa yang terjadi? Bukankah guru itu belum mengucapkan sepatah kata pun untuk melarang mereka bermain ? dia juga tidak menghardik dan menyuruh mereka untuk masuk kelas. Lalu mengapa anak-anak segera sadar dan langsung berlarian masuk ke kelas mereka?

Ya, tidak lain disebabkan kehadiran fisik guru sudah mampu menjadi bahasa tersendiri, yakni bahasa peraturan. Fisik guru itu telah mampu berbicara kepada anak-anak dan mengingatkan mereka tentang apa yang boleh diperbuat dan apa yang tidak boleh dilakukan. Guru itu tidak perlu memperlihatkan wajah marah untuk mengingatkan mereka. Ia juga tidak membutuhkan kata-kata untuk menyuruh anak-anak masuk kelas. Ia hanya butuh satu senyuman untuk membuat anak-anak menyadari kesalahan-kesalahannya. Dengan melihat senyuman itu, anak-anak seolah-olah mendengar guru berkata, “Bel tanda masuk sudah dibunyikan, ayo, segeralah masuk kelasmu, isi waktumu untuk membaca”. Dan anak-anak pun segera berhamburan masuk ke kelas mereka.
Itulah gambaran sederhana tentang wibawa seorang guru. Guru yang berwibawa tidak perlu mengeluarkan banyak energi untuk menegur dan menyuruh anak. Ia juga tidak perlu mengeluarkan suara keras untuk menyuruh anak masuk kelas. Ia hanya butuh senyuman dan satu kalimat yang diucapkan dengan pelan saja. Bahkan, kadang-kadang guru yang berwibawa tidak perlu satu senyuman atau satu kalimat pun. Kehadiran fisik mereka saja sudah mampu mengembalikan suasana penuh pelanggaran menjadi kondisi yang penuh ketaatan pada peraturan.

Jadi, semakin tinggi wibawa seorang guru di mata para siswa, semakin ringanlah pekerjaannya. Dia tak perlu berteriak-teriak ketika siswanya membuat gaduh. Cukup dengan menghadirkan dirinya di hadapan siswa-siswanya yang melakukan pelanggaran, siswa-siswanya akan berhenti dengan sendirinya.

Dari mana Datangnya Wibawa?

Menurut Henry Fayol, kewibawaan berarti hak memerintah dan kekuasaan untuk membuat kita dipatuhi dan ditaati. Ada juga orang mengartikan kewibawaan dengan sikap dan penampilan yang dapat menimbulkan rasa segan dan rasa hormat. Sehingga dengan kewibawaan seperti itu,anak didik merasa memperoleh pengayoman dan perlindungan.
Secara sederhana, wibawa dapat dimaknai sebagai kemampuan untuk mempengaruhi dan menguasai orang lain. Wibawa bisa muncul dari dua hal , karisma dan performa. Karisma biasanya muncul dengan sendirinya karena merupakan bawaan seseorang sejak lahir.

Pertama. Karisma biasannya berkaitan dengan hal-hal yang melekat pada pribadi seseorang, seperti postur tubuh, bentuk wajah, gaya bicara, tatapan mata, sampai cara berjalan. Seseorang yang karismatik tidak perlu belajar terlebih dahulu atau mengubah penampilan untuk mencari perhatian orang lain. Ia sudah memiliki daya pikat yang dibawanya sejak lahir. Dari sinilah munculnya kemampuan untuk membuat orang lain terpesona dan terpengaruh.

Kata karisma berasal dari bahasa Yunani, charizhesthai, yang berarti menolong. Makna konotasi teologis dari kata ini adalah bakat atau kekuatan yang dianugerahkan oleh Tuhan. Seperti itulah yang dikatakan oleh Clip R. Bell dan Billijack R. Bell dalam memaknai kata karisma di dalam bukunya, Magnetic Service . Didalam buku itu, Clip dan Billijack mengibaratkan karisma sebagai magnet. Sebuah magnet selalu memiliki kemampuan untuk memikat, menarik, menahan dan mencengkeram dengan kuat objek yang ada didekatnya.

Karisma memiliki sifat-sifat yang sama dengan sebuah magnet. Sifat-sifat karismatik yang termasuk dalam konteks ini adalah menarik perhatian seseorang, mengajak dan membawanya kearah tertentu, serta menahannya hingga orang tersebut tidak mau meninggalkan dirinya. Orang yang karismatik biasanya memiliki banyak pengikut yang fanatik dengan tingkat kekaguman yang luar biasa. Mereka tidak mau mengambil sikap dan keputusan tertentu sebelum ada penjelasan daei orang yang dikaguminya itu.
Karisma adalah keistimewaan yag bersifat pribadi yang berbentuk daya pikat dan pesona yang dimiliki seseorang untuk membuat orang lain tertarik dan terpengaruh. Seorang guru yang karismatik akan menghadirkan pengalaman yang unik bagi para siswa sehingga hatinya merasa tertawan. Hanya para siswa akan menjadi tawanan di tangan guru karismatik ini. Maka, bisa dibayangkan betapa mudahnya guru itu mengelola para siswa yang sudah tertawan dan “tak berdaya”.

Rasulullah saw adalah sosok dengan karisma yang sangat tinggi. Banyak sekali hadist yang menceritakan gambaran fisik beliau yang sangat ideal. Hidung yang mancung, rambut yang hitam, rapi, ikal yang panjangnya sangat terukur., gigi yang putih bersih dan berjajar terawat; senyum yang sangat manis, badan yang tegap, kulitnya yang putih; tangan yang kekar, dan sebagainya, menunjukkan betapa fisik Rasulullah saw memiliki daya pikat dan daya pesona yang tinggi. Keadaan iu sangat mendukung kewibawaan Rasulullah saw. Belum lagi cara beliau berjalan, berbicara dan bercanda yang sangat menawan. Kesemuanya menyimpan dan memunculkan karisma. Tidak mengherankan jika banyak orang yang baru melihat sosok beliau sudah menaruh hormat dengan sendirinya. Kana kullu amrihi ajaba (setiap yang ada pada dirinya menakjubkan.

Seorang yang berwibawa dilukiskan oleh Allah dalam Al-Quran :
“Orang-orang yang berjalan di bumi dengan rendah hati, dan apabila orang-orang menyapa mereka, mereka mengucapkan kata-kata keselamatan. Mereka itulah yang dibalasi dengan martabat yang tinggi karena kesadaran mereka, dan mereka disambut dengan penghormatan dan ucapan selamat didalamnnya.” [QS. Al-Furqan : 63 dan 67]

Menurut Sulani, kewibawaan termasuk maqam mahmudah yang dapat menolong manusia untuk memiliki kekuatan yang bersumber dari Allah. Untuk mencapai maqam ini, Al-Quran telah memberikan tuntunan kepada manusia, sebagaimana firman-Nya dalam Al-Quran :
“Dan dari sebagian malam hendaknya kamu bersembahyang tahajud sebagai suatu ibadah tambahan bagimu, mudah-mudahan Tuhanmu mengangkat kamu ke tempat yang terpuji. Dan katakanlah : “Ya Tuhanku, masukkanlah aku secara benar, dan keluarkanlah aku secara benar pula dan berikanlah kepadaku dari sisi Engkau kekuasaan yang menolong. [QS. Al-Isra’ : 79-80].

Ayat tersebut menerangkan bahwa hendaklah kita memperbanyak sholat tahajud, karena sholat tersebut bisa membawa kepada kedudukan yang terpuji. Sehingga orang yang sering melaksanakan sholat tahajud dirinya memiliki pengaruh yang besar dan insya Allah akan diikuti ajakannya. Hendaklah para guru membiasakan diri untuk melaksanakan sholat tahajud, apalagi seorang guru yang tugasnya memberikan pelajaran kepada anak didik, sudah sewajarnya kalau ajakan tau perintahnya ingin diikuti. Oleh karena itu, tahajud akan membawa dampak kepada kita sebagai orang yang tawadhuk dan berwibawa.

Selain itu, penampilan fisik seseorang memiliki pengaruh terhadap kewibawaannya. Oleh karena itu, seorang guru tidak boleh bersikap cuek terhadap penampilan fisiknya. Jangan sampai karena alasan sibuk menangani anak-anak, seorang guru tidak memerhatikan penampilan fisiknya. Atau, karena waktu yang sempit dan genting, guru melangkah terburu-buru dihadapan para siswa sehingga terlihat lucu. Jika itu terjadi, niscaya kewibawaannya akan turun di hadapan para siswa. Tetap lah melangkah dengan tenang, tetapi menunjukkan kecekatan dalam menghadapi siuasi yang genting dan terburu-buru.

Kedua, Perkara yang bisa meningkatkan wibawa seseorang adalah performa, yaitu,kebiasaan yang lahir dari standar dan plan kerja yang dimiliki guru. Dibandingkan dengan karisma, performa lebih mudah dipelajari dan dibentuk karena tidak terkait dengan hal-hal yang sifatnya bawaan. Guru yang cerdas dan selalu bisa mengatasi persoalan akan terlihat lebih berwibawa daripada guru yang terlihat gagap dan jarang memberi solusi terhadap suatu masalah. Guru yang secara konsisten menunjukkan rasa tidak suka terhadap siswa yang melanggar aturan, lebih disegani siswa daripada guru yang tidak konsisten menampilkan ketidaksukaannya kepada pelanggar aturan. Guru dibilang tidak konsisten jika terkadang marah ketika melihat ada siswa yang melanggar aturan dan terkadang membiarkannya.

Secara bahasa, performa memiliki arti sesuatu yang berhubungan dengan pekerjaan. Jadi, peforma yang baik adalah daya pikat seseorang dalam menawan hati orang lain dengan prestasi kerja yang bagus. Berbeda dengan karisma yang terkait penampilan fisik, performa menitiberatkan pada bagaimana tampilan nonfisik seseorang. Biasanya, performa terwujud dalam bentuk sikap tegas, cerdas, sopan, konsisten, jujur dan selalu memiliki solusi saat menghadapi masalah.

Hal yang penting mengenai performa ini adalah konsisten. Untuk apa ketegasan dan kecerdasan kalau hanya muncul sekali saja, lalu tidak muncul di waktu lainnya. Sekali lagi, buat apa semua itu jika tidak dilakukan dengan konsisten. Hanyalaha kesia-siaan yang akan didapatkan. Tanpa konsistensi, ketegasan dan kecerdasan tidak akan mampu membentuk performa. Alhasil kewibawaan yang diinginkan tidak akan terwujud.

Kinerja yang bagus harus ditampilkan secara terus menerus di setiap waktu dan keadaan. Syukur bisa terus tingkatkan. Hanya dengan cara inilah performa seseorang akan terbentuk dengan kuat. Guru yang selalu mempersiapkan dirinya ketika hendak mengajar akan terlihat berwibawa daripada guru yang tidak siap. Bila kinerja guru kadang-kadang bagus dan terkadang buruk, maka siswa sulit menangkap performa gurunya. Dan kewibawaan guru tersebut akan jatuh di hadapan siswa.

Faktor paling utama adalah persiapan mental yang baik disamping persiapan rencana pembelajaran dan alat peraga. Tanpa persiapan mental, rencana pembelajaran dan alat peraga tidak akan membawa dampak positif. Sebab, itu hanyalah persiapan di tataran yang paling luar. Motivasi, keikhlasan dan antusiasme merupakan persiapan yang sangat esensial sebagai pendamping kesiapan dan penguasaan materi pelajaran atau alat peraga.


Benarkah Galak Bisa Bikin Wibawa ?

Tidak sedikit guru yang mengira bahwa sikap galak bisa membuat siswa menaruh hormat kepadanya. Menurut mereka, jika guru terlalu lembek maka anak akan ngelunjak. Namun, perlu dipahami bahwa siswa akan menghormati guru yang galak karena merasa takut. Disinilah seorang guru harus berpikir ulang apakah penghormatan seperti itu yang diinginkannya?

Seorang guru menginginkan penghormatan yang tulus dari para siswa, bukan penghormatan semu. Penghormatan yang semu membuat para siswa hanya taat aturan ketika ada guru. Ketika guru pergi, mereka akan kembali melakukan pelanggaran. Ketaatan itukah yang kita inginkan?

Sikap galak seorang guru biasanya muncul karena ia mencoba menutupi kekurangan, baik kekurangan pribadinya sendiri maupun sistem sekolahnya. Kemarahan guru karena tersinggung ketika dikritik siswanya merupakan cara untuk menutupi kekurangan diri. Apapun alasannya, meledaknya emosi guru yang melahirkan kemarahan, merupakan bukti bahwa kita tidak mampu mengendalikan dirinya. Ketidakmampuan inilah yang berusaha ditutupi guru hadapan siswa dengan bersikap galak.

Jika sikap galak ini dapat memberikan rasa takut kepada para siswa, mungkin masih lumayan. Lebih parah lagi jika sikap galak tersebut tidak mampu melahirkan rasa takut atau hormat sedikitpun. Ada banyak guru yang justru ditertawakan oleh siswanya ketika marah. Semakin marah sang guru, semakin geli pula siswa-siswanya. Sebab, siswa dengan tipikal tertentu malah tertarik untuk membuat sang guru marah. Mereka menyeringai puas ketika berhasil membuat guru itu marah. Dan, guru pun semakin kehilangan akal untuk mengatasi suasana semacam itu. Mau marah salah, didiamkan semakin salah. Dan, siswa-siswanya tetap sulit dikendalikan. Jika kondisi seeperti ini yang terjadi, hilang sudah wibawa guru tersebut.

Efek dari sikap galak rasa hormat semu atau rasa takut semata. Sebaliknya, penghormatan yang tulus dan sebenarnya hanya akan terlahir dari pengakuan siswa terhadap kelebihan gurunya, baik kelebihan secara lahir dari karisma, maupun performa yang dimilikinya. Itulah pilar dasar wibawa.


Daftar Pustaka
1. Abdullah Munir (2010). Super Teacher. PT. Bintang Pustaka Abadi (BiPA). Yogyakarta.
2. Muhammad Nurdin ( 2004). Kiat Menjadi Guru Profesional. AR-RUZZ Media. Yogyakarta.

Senin, 11 Maret 2019

MEDIA PEMBELAJARAN SEBAGAI SARANA PEMBELAJARAN

PENDAHULUAN
Media pembelajaran secara umum adalah alat bantu proses belajar mengajar. Segala sesuatu yang dapat dipergunakan untuk merangsang pikiran, perasaan, perhatian dan kemampuan atau ketrampilan pebelajar  sehingga dapat mendorong terjadinya proses belajar. Batasan ini cukup luas dan mendalam mencakup pengertian sumber, lingkungan, manusia dan metode yang dimanfaatkan untuk tujuan pembelajaran / pelatihan.
Sedangkan menurut Briggs (1977) media pembelajaran adalah sarana fisik untuk menyampaikan isi/materi pembelajaran seperti : buku, film, video dan sebagainya. Kemudian menurut National Education Associaton(1969) mengungkapkan bahwa media pembelajaran adalah sarana komunikasi dalam bentuk cetak maupun pandang-dengar, termasuk teknologi perangkat keras.
PEMBAHASAN
Posisi media pembelajaran.
Oleh karena proses pembelajaran merupakan proses komunikasi dan berlangsung dalam suatu sistem, maka media pembelajaran menempati posisi yang cukup penting sebagai salah satu komponen sistem pembelajaran. Tanpa media, komunikasi tidak akan terjadi dan proses pembelajaran sebagai proses komunikasi juga tidak akan bisa berlangsung secara optimal. Media pembelajaran adalah komponen integral dari sistem pembelajaran. Menurut Edgar Dale, dalam dunia pendidikan, penggunaan media pembelajaran seringkali menggunakan prinsip Kerucut Pengalaman, yang membutuhkan media seperti buku teks, bahan belajar yang dibuat oleh guru dan “audio-visual”
Ada beberapa jenis media pembelajaran, diantaranya :

Media Visual: grafik, diagram, chart, bagan, poster, kartun, komik

Media Audial : radio, tape recorder, laboratorium bahasa, dan sejenisnya

Projected still media: slide; over head projektor (OHP), in focus dan sejenisnya

Projected motion media: film, televisi, video (VCD, DVD, VTR), komputer dan sejenisnya.

Pada hakikatnya bukan media pembelajaran itu sendiri yang  menentukan hasil  belajar. Ternyata keberhasilan menggunakan media pembelajaran dalam proses pembelajaran untuk meningkatkan hasil belajar tergantung pada (1) isi pesan, (2) cara menjelaskan pesan, dan (3) karakteristik penerima pesan. Dengan demikian dalam memilih dan menggunakan media, perlu diperhatikan  ketiga faktor tersebut. Apabila ketiga faktor tersebut mampu disampaikan dalam media pembelajaran tentunya akan memberikan hasil yang maksimal.
Tujuan menggunakan media pembelajaran :
Ada beberapa tujuan menggunakan media pembelajaran, diantaranya yaitu :
–          mempermudah proses belajar-mengajar
–          meningkatkan efisiensi belajar-mengajar
–          menjaga relevansi dengan tujuan belajar
–          membantu konsentrasi mahasiswa
–          Menurut Gagne : Komponen sumber belajar yang dapat merangsang siswa untuk belajar
–          Menurut Briggs : Wahana fisik yang mengandung materi instruksional
–          Menurut Schramm : Teknologi pembawa informasi atau pesan instruksional
–          Menurut Y. Miarso : Segala sesuatu yang dapat merangsang proses belajar siswa
Tidak diragukan lagi bahwa semua media itu perlu dalam pembelajaran. Kalau sampai hari ini masih ada guru yang belum menggunakan media, itu hanya perlu satu hal yaitu perubahan sikap. Dalam memilih media pembelajaran, perlu disesuaikan dengan kebutuhan, situasi dan kondisi masing-masing. Dengan perkataan lain, media yang terbaik adalah media yang ada. Terserah kepada guru bagaimana ia dapat mengembangkannya secara tepat  dilihat dari isi, penjelasan pesan dan karakteristik siswa untuk menentukan media pembelajarantersebut.[1]

Kesimpulan

 media pembelajaran adalah segala sesuatu yang dapat menyalurkan pesan, dapat merangsang fikiran, perasaan, dan kemauan peserta didik sehingga dapat mendorong terciptanya proses belajar pada diri peserta didik. Secara umum media pembelajaran adalah alat bantu proses belajar mengajar. Segala sesuatu yang dapat dipergunakan untuk merangsang pikiran, perasaan, perhatian dan kemampuan atau ketrampilan pebelajar  sehingga dapat mendorong terjadinya proses belajar.
DAFTAR RUJUKAN
http://belajarpsikologi.com/pengertian-media-pembelajaran//html
[1]http://belajarpsikologi.com/pengertian-media-pembelajaran/html.29.12.14 pukul 11:30 WIB

Sabtu, 19 Desember 2015

TEKNIK PEMILIHAN MEDIA PEMBELAJARAN



A.  Dasar Pertimbangan Pemilihan Media
Kelemahan-kelemahan yang nampak menggejala dalam pemakaian media merupakan bagian yang diperhitungkan dalam proses belajar-mengajar bukan didasarkan pada pemikiran logis dan ilmiah, melainkan sekedar memenuhi perkembangan majunya teknologi atau kebiasaan yang berkembang di lingkungan sekolah. Seorang pelajar membiasakan untuk memakai media pengajaran yang telah disediakan oleh suatu sekolah untuk membantu dalam mempermudah penyampaian pesan pembelajaran, sehingga pemakaian media tersebut tidak didasrkan pertimbangan pada kebutuhan dan karakteristik siswa atau kesesuaian dengan materi yang akan disajikan dan tujuan yang akan dicapai.
Pembelajaran yang efektif memerlukan perencanaan yang baik. Media yang akan digunakan dalam proses pembelajaran itu juga memerlukan perencanaan yang baiak. Meskipun demikian, kenyataan dilapangan menunjukkan bahwa seorang guru memilih salah satu media dalam kegiatannya dikelas atas dasar pertimbangan
a.  Ia merasa sudah akrab dengan media itu.
b. Ia merasakan bahwa media yang dipilihnya dapat menggambarkan dengan lebih baik daripada dirinya sendiri.
c. Media yang dipilihnya dapat menarik minat dan perhatian siswa, serta menuntutnya pada penyajian yang lebih testruktur dan terorganisir.
d. Ingin memberi gambaran atau penjelasan yang lebih konkret.

Jadi dengan dasar pertimbangan inilah yang diharapkan oleh guru agar dapat memenuhi kebutuhannya dalam mencapai. Mc. Connel (1974) mengatakan bila media itu sesuai pakailah “If The Medium Fits, Use it!”. Hal yang menjadi pertanyaan di sini adalah apa ukuran atau kriteria kesesuaian tersebut. Jawaban atas pertanyaan ini tidaklah semudah pertanyaannya. Beberapa faktor perlu dipertimbangkan, misalnya tujuan instruksional yang ingin dicapai, karakteristik siswa atau sasaran, jenis rangsangan belajar yang diinginkan (audio, visual, gerak, dan seterusnya), keadaan latar atau lingkungan, kondisi setempat dan luasnya jangkauan yang ingin dilayani. Faktor-faktor tersebut pada akhirnya harus diterjemahkan dalam keputusan pemilihan media.

Pada tingkat yang menyeluruh dan umum pemilihan media dapat dilakukan dengan mempertimbangkan faktor-faktor berikut:
1.   Hambatan pengembangan dan pembelajaran yang meliputi faktor-faktor dana, fasilitas dan peralatan yang telah tersedia, waktu yang tersedia (waktu mengajar dan pengembangan materi dan media), sumber-sumber yang tersedia ( manusia dan material).
2.   Persyaratan isi, tugas, dan jenis pembelajaran. Isi pembelajaran beragam dari sisi tugas yang ingin dilakukan siswa, misalnya penghafalan, penerapan keterampilan, pengertian hubungan-hubungan, atau penalaran dan pemikiran tingkatan yang lebih tinggi. Setiap katagori pembelajaran itu menuntut perilaku yang berbeda-beda dan dengan demikian akan memerlukan teknik dan media yang berbeda-beda pula.
3.    Hambatan dari sisi siwa dengan mempertimbangkan kemampuan dan keterampilan awal, seperti membaca, mengetik, dan menggunakan komputer, dan karakteristik siswa lainnya.
4.    Pertimbangan lainnya adalah tingkat kesenangan dan keefektivan biaya.
5.   Pemilihan media sebaiknya mempertimbangkan pula:
a.  Kemampuan mengakomodasikan penyajian stiimulus yang tepat (visual dan / atau audio).
b.  Kemampuan mengakomodasikan respon siswa yang tepat (tertulis, audio, dan / atau kegiatan fisik).
c.  Kemampuan mengakomodasikan umpan balik
d. Pemilihan media utama dan media skunder untuk penyajian informasi dan stimulus.
6.      Media skunder harus mendapat perhatian karena pembelajaran yang berhasil menggunakan media yang beragam. Dengan penggunaan media yang beragam, siswa memiliki kesempatan untuk menghubungkan dan berinteraksi dengan media yang paling efektif sesuai dengan kebutuhan belajar mereka secara perorangan.

Dari segi teori belajar, berbagai kondisi dan prinsip-prinsip psikologis yang perlu mendapat pertimbangan dalam pemilihan dan penggunaan media adalah sebagai berikut:
1.  Motivasi. Harus ada kebutuhan, minat, atau keinginan untuk belajar dari pihak siswa sebelum meminta perhatiannya untuk mengerjakan tugas dan latihan. Lagi pula pengalaman yang akan dialami siswa harus relevan dan bermakna baginya. Oleh karena itu, perlu untuk melahirkan minat dengan perlakuan yang memotivasi dari informasi yang terkandung dalam media pembelajarn itu.
2.  Perbedaan individual. Siswa belajar dengan cara dan tingkat kecepatan yang berbeda-beda. Faktor seperti intelegensia, tinkat pendidikan, kepribadiannya, dan gaya belajar mempengaruhi kemampuan dan kesiapan siswa untuk belajar. Tingkat kecepatan penyajian informasi melalui media harus berdasarkan tingkat pemahaman.
3.  Tujuan pembelajaran. Jika siswa diberitahukan apa yang diharapkan mereka pelajari melalui media pembelajaran itu, kesempatan untuk berhasil dalam pembelajaran semakin besar. Tujuan ini akan menentukan bagian isi yang mana yang harus mendapatkan perhatian pokok dalam media pembelajaran.
4.  Organisasi isi. Pembelajaran akan lebih mudah  jika isi dan prosedur atau ketrampilan fisik yang akan dipelajari diatur dan diorganisasikan ke dalam urutan yang bernakna. Siswa akan memahami dan mengingat lebih lama materi pelajaran yang secara logis disusun dan diurut-urutkan secara teratur.
5.  Persiapan sebelum belajar. Siswa sebaiknya telah menguasai secara baik pelajaran dasar atau memiliki pengalaman yang diperlukan secara memadai yang mungkin merupakan persyaratan untuk penggunaan media dengan sukses. Dengan kata lain, ketika merancang materi pelajaran, perhatian harus ditujukan kepada sifat dan tingkat pemahaman siswa.
6.  Emosi. Pembelajarn yang melibatkan emosi dan perasaan pribadi serta kecakapan amat berpengaruh dan bertahan. Media pembelajaran adalah cara yang sangat baik untuk menghasilkan respon emosional seperti takut, cemas, empati, cinta kasih, dan kesenangan.
7.  Partisipasi. Agar pembelajaran berlangsung dengan baik, seorang siswa harus menginternalisasi informasi, tidak sekedar diberitahukan kepadanya. Oleh karena itu belajar memerlukan kegiatan. Partisipasi aktif oleh siswa jauh lebih baik daripada mendengarkan dan menonton secara pasif.  Dengan partisipasi kesempatan lebih besar terbuka bagi siswa untuk memahami dan mengingat materi pelajaran itu.
8.  Penguatan (reinforcement). Pembelajran yang didorong oleh keberhasilan amat bermanfaat, dapat membangun kepercayaan diri, dan secara positif mempengaruhi perilaku di masa-masa yang akan datang.
9.  Latihan dan pengulangan. Agar suatu pengetahuan atau keterampilan dapat menjadi bagian kompetensi atau kecakapan intelektual seseorang, haruslah pengetahuan atau keterampilan itu sering diulang dan dilatih dalam berbagai konteks. Dengan demikian ia dapat tinggal dalm ingatan jangka panjang.
10 Penerapan. Hasil belajar yang diinginkan adalah meningkatkan kemampuan seseorang untuk menerapakan atau mentransfer hasil belajar pada masalh atau situasi baru. Tanpa dapat melakukan ini, pemahaman sempurna belun dapat dikatakan dikuasai. 

B.  Kriteria Pemilihan Media
Kriteria pemilihan media haruslah dikembangkan  sesuai dengan tujuan yang ingin dicapai, kondisi dan keterbatasan yang ada dengan mengingat kemampuan dan sifat-sifat khasnya (karakteristik) media yang bersangkutan.
Prof. Ely dalam kuliahnya di Fakultas Pascasarjana IKIP Malang tahun 1982 mengatakan bahwa pemilihan media seyugyanya tid k terlepas dari konteknya bahwa media merupakan komponen dari sistem intruksional secara keseluruhan, karena itu meskipun tujuan dan isinya sudah diketahui, faktor-faktor lain seperti karakteristik siswa, strategi belajar mengajar, organisasi kelompok belajar, alokasi waktu dan sumber, serta prosedur penilainnya juga perlu dipertimbangkan.
Memilih media hendaknya tidak dilakukan secara sembarangan, melainkan didasarkan atas kriteria tertentu. Kesalahan pada saat pemilihan, baik pemilihan jenis media maupun topik yang dimediakan, akan membawa akibat panjang yang tidak kita inginkan dikemudian hari.

Ada beberapa kriteria umum yang perlu diperhatikan dalam memilih media yaitu:
1.      Kesesuaian dengan Tujuan (intructional goals)
Perlu dikaji tujuan pembelajaran apa yang ingin dicapai dalam suatu kegiatan pembelajaran. Kemudian bisa dianalisis media apa saja yang cocok guna mencapai tujuan tersebut.
2.      Kesesuaian dengan Materi Pembelajaran (intructional content)
Yaitu bahan atau kajian apa yang diajarkan pada program pembelajaran tersebut. Pertimbangan lainnya dari bahan atau pokok bahasan tersebut sampai sejauhmana keadaan yang harus dicapai, dengan demikian kita bisa mempertimbangankan media apa yang sesuai dengan menyampaikan bahan tersebut.
3.      Kesesuaian dengan Karakteristik Pembelajaran atau Siswa
Dalam hal ini media haruslah familiar dengan karakteristik siswa atau guru. Yaitu mengkaji sifat-sifat dan ciri-ciri media yang akan digunakan. Hal lainnya karakteristik siswa, baik secara kuantitatif (jumlah) ataupun kualitatif (kualitas, ciri dan kebiasaan lain) dari siswa terhadap media yang akan digunakan.
4.      Kesesuaian dengan Teori
Pemilihan media ini harus didasarkan atas kesesuaian dengan teori. Media yang dipilih bukan karena fanatisme guru terhadap suatau media yang dianggap paling bagu, namun didasrkan atas teori yang diangkat dari penelitian dan riset sehingga telah teruji validitasnya. Pemilihan media harus merupakan bagian integral dari keseluruhan proses pembelajaran yang fungsinya untuk meningkatkan efesiensi dan efektivitas pembelajaran.
5.      Kesesuaian dengan Gaya Belajar Siswa
      Kriteria ini didasarkan atas kondisi psikologis siswa, bahwa siswa belajar dipengaruhi pula oleh gaya belajar siswa.
6.      Kesesuaian dengan Kondisi Lingkungan, Fasilitas Pendukung, dan Waktu yang Tersedia
         Bagaimanapun bagusnya sebuah media apabila tidak didukung oleh fasilitas waktu yang tersedia maka kurang efektif. Media juga terkait dengan user atau penggunaanya dalam hal ini guru, jika guru tidak memiliki kemampuan untuk menggunakan media tersebut dengan baik maka akan sisa-sia, begitu juga fasilitas lainnya.

C.  Prinsip Pemilihan Media Pembelajaran
Pemilihan media pembelajaran yang sesuai dengan  standar kompetensi dan indikator yang ditetapkan pada dasarnya merupakan suatu perluasan keterampilan berkomunikasi yang membutuhkan suatu proses yang rinci, sistematis dan khusus. Memilih media pembelajarn yang terbaik untuk standar kompetensi dan indikator suatu pembelajaran bukan suatu pekerjaan yang mudah. Karena pemilihan media tersebut didasarkan pada berbagai prinsip dan faktor yang saling mempengaruhi.
Ada beberapa prinsip dalam memilih media pembelajaran yang harus diperhatikan oleh guru, yang terpenting dalam pemilihan media pembelajaraan dimaksud adalah adanya patokan yang digunakan pada proses pemilihan media itu. Pemilihan dan penggunaan suatu media pembelajaran harus melibatkan tenagan yang mampu, terampil, dan profesional untuk memanfaatkannya disetiap lembaga pendidikan. Biaya yang dibutuhkan juga harus tersedia dan terjangkau oleh suatu lembaga pendidikan yang bersangkutan.

Secara garis besar beberapa prinsip yang perlu diperhatikan dalam pemilihan media pembelajaran, yaitu:
a.    Harus adanya kejelasan tentang maksud dan tujuan pemilihan media pembelajaran. Apakah pemilihan media itu untuk pembelajaran, untuk informasi yang bersifat umum, ataukah sekedar hiburan saja mengisi waktu kosong. Lebih khusus lagi, apakah untuk pembelajaran kelompok atau individu, apakah sasarannya siswa TK, SD, SMA, atau siswa Sekolah Dasar Luar Biasa, masyarakat pedesaan ataukah masyarakat perkotaan.
b.    Karakteristik Media Pembelajaran. Setiap media pembelajaran memiliki karakteristik tertentu, baik dilihat dari keunggulannya, cara pembuatan maupun cara penggunaannya. Memahami karakteristik media  pembelajaran merupakan kemampuan dasar yang harus dimiliki dalam kaitannya dengan pemilihan media pembelajaran. Disamping itu, hal ini memberikan kemungkinan bagi kita untuk menggunakan berbagai media pembelajaran secara bervariasi.
c.    Alternatif Pilihan, yaitu adanya sejumlah media yang dapat dibandingkan atau dikompetisikan. Dengan demikian kita bisa menentukan pilihan media pembelajaran mana yang akan dipilih.

Selanjutnya perlu diingat bahwa tidak ada satu mediapun yang sifatnya bisa menjelaskan semua permasalahn atau materi pembelajaran secar tuntas.

D.  Tips dalam Memilih Media Pembelajaran
Sebelum memutuskan untuk memanfaatkan media dalam kegiatan pembelajaran di dalm kelas, hendaknya guru melakukan seleksi terhadap media pembelajaran mana yang akn digunakan untuk mendampingi dirinya dalam membelajarkan peserta didiknya. Berikut ini beberapa tips atau pertimbangan-pertimbangan yang dapat digunakan guru dalam melakukan seleksi terhadap media pembaelajaran yang akan digunakan.
1.      Menyesuaikan Jenis Media denganMateri Kurikulum
Sewaktu akan memilih jenis media yang akn dikembangkan atau diadakan maka perlu yang diperrhatiakan adalah jenis materi pelajaran yang mana yang terdapat di dalam kurkulum yang dinilai perlu ditunjang oleh media pembelajaran. Kemudian, dilakukan telaah tentang jenis media apa yang diniai tepat untuk menyajikan materi pelajaran yang dikehendaki tersebut.
Sebagai contoh misalnya, pelajaran Bahasa Arab, untuk kemampuan berbahasa mendengarkan atau menyimak (maharah istima’), media yang lebih tepat digunakan adalah media kaset audio. Sedangkan untuk kemampuan menulis atau tata bahasa, maka media yang lebih tepat digunakan adalah media cetak. Sedangkan untuk mengajarkan kepada peserta didik tentang cara-cara menggunakan organs of spech untuk menuturkan kata atau kalima (pronounciation), mak media video akan lebih tepat digunakan.
2.      Keterjangkauan dalam Pembiayaan
Dalam pengembangan atau pengadaan media pembelajaran hendaknya juga mempertimbngakan ketersediaan anggaran yang ada. Kalau seandainya guru harus membuat sendiri media pembelajaran, maka hendaknya dipikirkan apakah ada diantara sesama guru yang mempunyai pengetahuan dan keterampilan untuk mengembangkan media pembelajaran yang dibutuhkan. Kalau tidak ada, maka perlu dijajaki berapa besar biaya yang dibutuhkan untuk pembuatan mediannya.
3.      Ketersediaan Perngkat Keras untuk Pemanfaatan Media Pembelajaran
Tidak ada gunannya merancang dan mengembangkan media secanggih apapun kalau tidak didukung oleh ketersediaan peralatan pemanfaatannya di kelas. Apa artinya tersedia media pembelajaran online apabila, disekolah tidak tersedia perangkat komputer dan fasilitas koneksi ke internet yang juga di dukung oleh Lokal Area Network (LAN). Sebaliknya, pemilihan media pembelajaran sederhana(seperti misalnya media kaset audio) untuk dirancang dan dikembangkan akan sangat bermanfaat karena peralatan / fasilitas pemanfaatannya tersedia di sekolah atau mudah diperoleh di masyarakat, selain itu sumber energi yang diperlukan untuk mengoperasikan peralatan pemanfaatan media sederhana juga cukup mudah yaitu hanya dengan menggunakan baterai kering.  Dari segi ekspertis atau keahlian dan keterampilan yang dibutuhkan untuk mengembangkan media sederhana seperti media kaset audio atau transparasi misalnya tidaklah terlalu sulit untuk mendapatkannya. Tidaklah juga terlalu sulit untuk mempelajari cara-cara perancangan dan pengembangan media sederhana.
4.      Ketersediaan Media Pembelajaran di Pasaran
Karena promosi dan peragaan yang sangat mengagumkan/ mempesona atau menjanjikan misalnya, sekolah langsung tertarik untuk membeli media pembelajarn yang ditawarkan. Namun sebelum membeli media pembelajrannya (program), sekolah harus terlebih dahulu  membeli perangkat keras untuk pemanfaatannya. Setelah peralatan pemanfaatan media pembelajarannya dibeli ternyata di antara guru ada atau belum tanu bagaimana cara-cara mengoperasikan peralatan, pemanfaatan media pembelajaran media pembelajaran yang akan diadakan tersebut. Di samping itu media pembelajarannya (program) sendiri ternyata sulit didapatkan di pasaran sebab harus dipesan terlebih dahulu untuk jangka waktu tertentu.
Kemudian, dapat saja terjadi bahwa media pembelajaran yang telah dipesan dan dipelajri, kandungan materi pelajarannya sedikit sekali relevan dengan kebutuhan peserta didik (sangat dangkal). Sebaliknya, dapat juga terjdi bahwa materi yang dikemas di dalam media pembelajaran sangat cocok dari membantu mempermudah siswa memahami materi pelajaran. Namun, yang menjadi masalah adalah bahwa media pembelajaran tersebut sulit didapatkan di pasaran.
5.      Kemudahan Memanfaatkan Media Pembelajaran
Aspek lain yang juga tidak kalh pentinnya untuk dipertimbangkan dalam pengembangan atau pengadaan media pembelajaran adalah kemudahan guru atau peserta didik memanfaatkannya. Tidak akan terlalu bermanfaat apabila media pembelajaran dikembangkan sendiri atau yang dikontrakkan pembuatannya ternyata tidak mudah dimanfaatkan, baik oleh guru maupun oleh peserta didik. Media yang dikembangkan atau dibeli tersebut hanya akan berfungsi sebagai pajangan di sekolah.

E.     Pemilihan Media Pembelajaran
Setiap media pembelajaran memiliki keunggulan masing-masing, maka dari itulah kita diharapkan dapat memilih media yang sesuai dengan kebutuhan atau tujuan pembelajaran. Dengan harapan bahwa penggunaan media akan mempercepat dan mempermudah pencapaian tujuan pembelajaran.
Adapun dalam memilih media, perlu diperhatikan hal-hal  sebagai berikut:
1.      Memahami karakteristik setiap media
2.      Sesuai dengan tujuan yang hendak dicapai
3.      Sesuai dengan metode pelajaran yang digunakan
4.      Sesuai dengan materi yang dikomuniasikan
5.      Sesuai dengan keadaan siswa
6.      Sesuai dengan situasi dan kondisi lingkungan, kemudahan memperoleh media
7.      Sesuai dengan keterampilan guru menggunakannya
8.      Ketersediaan waktu menggunaknnya
9.      Sesuai dengan taraf berfikir siswa.